![]() |
Aksi demo damai yang dilakukan KNPB, GempaR dan simpatisannya dalam pernyataan sikapnya yang mendukung PIF di Port Moresby, Papua Nugini - Jubi/mawel |
Jayapura, Jubi – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) memobilisasi
aksi massa turun ke jalan mendukung pembukaan pertemuan pemimpin
negara-negara Kepulauan Pasific di Moresby pada 7 -11 September
mendatang.
Sejak pagi di depan Kantor Pos Abepura aparat kepolisian sudah
berjaga-jaga di depan Ruko tempat yang biasa dipakai warga untuk
berdemo dan berorasi. Walau demikian KNPB Pusat di Jayapura tetap
melakukan aksi di depan Gapura Universitas Cenderawasih Jayapura, di
Waena, kota Jayapura, Papua.
Massa aksi dari Sentani , Abepura dan Jayapura berkumpul dan melakukan orasi secara bergantian dari pukul 8:30 hingga 14:15.
“Papua….”teriak setiap aktivis yang menyampaikan orasi. Teriakan itu
kemudian di sambut masa aksi dengan meneriakan “Merdeka” sambil
mengancungkan kepalan tangan kiri sebagai simbol perlawanan damai.
Ketua 1 KNPB Pusat, Agust Kossay yang memimpin massa aksi dari
Sentani tiba di lokasi pukul 12: 00 mengatakan kini saat Papua bebas
dari penjajahan. Papua sudah cukup berada dalam penjajahan negara
Kesatuan Republik Indonsia selama 53 tahun.
“Kami ingin bebas. Kami ingin bebas. Sudah saat Papua bebas dari
NKRI,”teriak Kossay saat orasi politik di jalan depan gapura UNCEN.
Katanya, negara-negara Melanesia harus berbicara nasib dan
penderitaan orang Papua. Negara-negara Melanesia tidak boleh tinggal
diam karena pembebasan orang West Papua juga bagian dari pembebasan
semua orang Melanesia di Pacific dari ancaman global.
“Pembabatan hutan, pengerukan sumber daya alam, penanaman kelapa
sawit ini turut mendukung pemanasan global. Solusinya bicara
negara-negara Pasific menerima West Papua menjadi pengamat di PIF supaya
West Papua melalui ULMWP turut mencari solusi masalah West Papua dan
Pasific seluruhnya,”katanya.
Bazoka Logo, Juru Bicara KNPB pusat mengatakan Pemerintah Indonesia
tidak bisa lagi membatasi orang Papua membicarakan hak politik dengan
stigma yang mengada-ada. Stigma Pencuri,Perampok, OTK, Makar, Separatis
dan kriminal sudah tidak berlaku lagi.,
“Sejak status West Papua sebagai observer MSG pada 26 Juni di
Honiara, stigma itu sudah habis dan tidak ada. Perjuangan hari ini damai
dan bermartabat yang kita lakukan,”tegas Logo.
Kata Logo, kalau perjuangan orang Papua tidak diakui, masalah Papua
tidak mungkin menjadi pengamat di MSG dan menjadi agenda di PIF. Masalah
West Papua menjadi agenda PIF artinya suatu pengakuan.
“Kita harus tahu itu. Masalah kita tidak lagi pembicaraan di luar.
Masalah kita menjadi masalah dan pembicaraan di dalam negara,”tegasnya. (Mawel Benny)
Sumber : http://tabloidjubi.com
Sumber : http://tabloidjubi.com
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Tuliskan Komentar Anda di Sini !!!