Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Korban Tewas Konflik Pendulang Emas di Papua Bertambah

Written By Unknown on Rabu, 20 Maret 2013 | 00.07

Salah Satu Korban Meninggal
Mimika - Korban tewas konflik pendulang emas tradisional di areal penambangan milik PT Freeport, kembali ditemukan. Korban tewas keenam itu diidentifikasi bernama Yosef Batfian asal Maluku Tenggara.

Jenazah Yosef ditemukan di Mile 31, Kali Kabur, Mimika. Kondisi korban ditemukan sudah membusuk dengan luka di sejumlah tubuh.

Jasad Yosef pertama kali ditemukan oleh  salah satu karyawan operator greder PT Kuala Pelabuhan Indonesia, Selasa (19/3) siang. Kini, jenazah Yosef berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika, Papua.

Kuat dugaan, Yosep merupakan korban salah sasaran dari salah satu kelompok warga yang bertikai di area pendulangan Kali Kabur, Jumat pekan lalu.
00.07 | 0 komentar

Mahasiswa Uncen : Polda Papua Berhenti Tangkap Mahasiswa dan Aktivis HAM

Written By Unknown on Minggu, 17 Maret 2013 | 03.30

Penangkapan Buchtar Tabuni (Doc.Jubi)
Jayapura – Tragedi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura berdarah, 16 Maret 2006 lalu, meninggalkan trauma dan kekecewaan mendalam bagi mahasiswa di Kampus ini. Bertolak dari trauma dan kekecewaan itu, mereka menuntut aparat keamanan berhenti menangkap aktivis mahasiswa dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).
Septi Meidogi, ketua dewan perwakilan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen meminta Kapolda Papua dan jajarannya agar membuka ruang demokrasi bagi mahasiswa dan kepada aktivis HAM. “Berhenti tangkap aktivis mahasiswa dan aktivis HAM,” kata Septi saat menggelar jumpa pers dengan wartawan di Abepura, Sabtu (16/3).
Peristiwa 16 Maret 2006, di Kampus Uncen Lama di Abepura saat itu, bermula dari demonstrasi Massa Front Pepera PB Kota Jayapura dan Parlemen Jalanan yang berlangsung sejak tanggal 15 dan 16 maret 2006. Mereka memprotes kejahatan PT Freeport Indonesia.
Septi meminta kepada aparat keamanan agar mengedepankan pendekatan persuasif dalam menyelesaikan segudang masalah yang terjadi di wilayah tertimur ini. Pemerintah diminta membuka ruang dialog guna menyelesaikan sejumlah masalah yang terjadi. “Pemerintah harus buka ruang dialog untuk selesaikan masalah Papua,” ungkap Septi.
Aldo Kapis, kepala bidang (kabid) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Uncen menuturkan, negara harus bertanggung jawab atas peristiwa 16 Maret 2006. Dari kasus itu, para pelaku dibebasakan dan dipromosikan untuk naik jabatan. “Mahasiswa kecewa dengan peristiwa tersebut. Peristiwa tersebut masuk pelanggaran HAM berat,” tuturnya. (Jubi/Musa)
03.30 | 0 komentar

Penembakan di Papua Terkait Dua Ideologi

Nomensen Mambraku (Doc.Jubi)
Jayapura Sejumlah kasus penembakan di Papua yang mengakibatkan berjatuhan korban, dinilai berkepentingan dua ideologi yang berbeda, yakni ideologi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Papua dan mempertahankan Papua sebaga suatu negara dari sudut sejarah.
“Papua adalah ladang konflik dua ideologi dari pihak yang berkepentingan. Kasus penembakan yang menelan korban jiwa baik aparat maupun sipil di Papua merupakan bagian dari perang ideologi,” kata Nomensen Mambraku, Akademisi Universitas Cenderawasih, Sabtu (16/3) di Jayapura.
Sejumlah kasus penembakan di Papua sejauh ini belum terungkap secara rinci pelakunya sehingga menjadi pertanyaaan dari berbagai pihak. Sebab itu, label penembak misterius masih berlansung hingga sekarang. “Pihak berwenang mesti mengungkap siapa yang menembak baik aparat maupun sipil di Papua,” tambah Nomensen.
Terkait itu, Nomensen mengatakan perlu adanya pelurusan sejarah bangsa Papua integrasi dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Sejarah bangsa Papua yang kabur justru mempunyai alat politik yang jitu bagi Pemerintah Pusat. Sebab itu, pemerintah Pusat duduk bersama rakyat Papua membicarakan masalah sejarah masa lalu. Sebab Papua memiliki dasar sejarah bahwa sudah pernah mengalami sebuah Negara,” katanya.
Menurutnya,  kasus-kasus penembakan di Papua masuk dalam ranah politik, yakni dua pihak yang berideologi berbeda. Kasus penembakan belakangan ini yang menewaskan sejumlah TNI belum diungkap tuntas siapa pelakunya. Tapi, tuduhan diarahkan kepada kelompok militan TPN/OPM sebagai pelaku.
Juru Bicara TPN/OPM, Jonah Wenda mengatakan  tidak benar kalau yang melakukan sejumlah kasus penembakan adalah dari pihak TPN/OPM. “Kita belum melakukan investigasi internal apakah anggota kami yang melakukan penembakan. Sebab wilayah Papua ini terlalu luas. Tapi, ada yang lebih ironis bahwa diantara anggota TPN/OPM mendapat penyusupan dari aparat keamanan untuk penyusupan proyektil. Dan tentu ini membahayakan anggota kami sendiri,” tutup Wenda. (Carol/Jubi)
02.30 | 0 komentar

Lanjutkan Perjuangan, AMP Kota Solo Lakukan Reorganisasi

AMP Saat Lakukan Aksi di Yogyakarta ( Doc.AMP )
Yogyakarta --  Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Solo melakukan re-organisai untuk memperkuat perjuangan yang selama ini dilakukan oleh organisasi ini, Jumat, (16/3/13) di Solo Jawa Tengah.  

Pantauan majalahselangkah.com, reorganisasi dihadiri Ketua AMP Pusat, Rinto Kogoya. Mereka berhasil menetapkan pencerahan dan pembentukan struktur AMP.

"AMP adalah progresif, militan dan patriotik. Jadi, bagi aktivis yang tergabung dalam organisasi ini harus benar-benar menunjukkan kerja nyata yang menuju pada rakyat Papua bisa menentukan nasib sendiri,"kata Rinto Kogoya.

Rinto menjelaskan, AMP didirikan pada tanggal 30 Mei 1998 di Jl. Guntur Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan. APM lahir di tengah situasi represi negara di Tanah Papua Barat dan situasi politik Indonesia yang mulai goyah akibat tekanan-tekanan politik dari gerakan pro-demokrasi Indonesia terhadap rezim Soeharto dan mulai menguatnya tuntutan Reformasi Politik bagi sebuah perubahan yang berkeadilan serta terbukanya ruang demokrasi.

Sejak berdiri, AMP telah dua kali menyelenggarakan Kongres Nasional. Kongres I diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta, pada November 2005. Dan Lima tahun kemudian tepatnya, Januari 2010, diselenggarakan Kongres II di Port Numbay, Papua.

AMP adalah organisasi massa mahasiswa yang terbuka tanpa memandang latar belakang pandangan, suku, agama, dan ras, serta mendukung perjuangan untuk  Rakyat asli Papua bisa menentukan nasib sendiri. (Sonny Dogopia/MS)
01.11 | 0 komentar

Bentrokan Antara Orang Key dan OAP Kembali Terjadi di Kawasan Freeport

Written By Unknown on Sabtu, 16 Maret 2013 | 21.03

Atimus Mom tewas tertembak
pakai parang oleh Suku Key
Timika - Sejak masuknya PT. Freeport Indonesia pada tahun 1930an sampai saat ini belum pernah diselesaikan masalah, PT. Freeport yang raksasa ini, sedang menghabiskan Rakyat West Papua, Ribuan rakyat melayang nyawa tak berdosa melayang. Kali ini bentrok yang dipicu masalah kamp tempat/lokasi  pedulangan oleh masayarakat  di Area Kerja  PT. Freeport Indonesia kembali terjadi antara suku Key Pendatang Luar Papua dengan Orang Pribumi Damal Amungme.
Kronologis.
Hari jumat 15/03/2013.jam 02: 00, WIT ( Siang)  Di Mile 34  Area Freeport  yang  dipingir sungai Limbah yang di jadikan tempat dulang salah satu kamp milik suku key di masuki oleh perampok, dan mereka kehilangan barang-barang mereka dan waktu itu suku key yang tinggal di kamp  itu tidak terima dengan kejadian itu dan mereka sedang  marah bercampur emosi dan jaga-jaga, tidak lama kemudian  ada tiga orang yang sering berburu dalam hutan, tiga orang ini atas nama. Atinus Mom, Doni Hagabal, Tekau Mom, kebetulan mereka sedang lewat di depan mereka langsung tanpa tanya suku key yang ada disitu langsung melakukan  penyerangan dengan parang langsung mengenai Doni Hagabal tubuh dan rusuk kanan terpotong Doni lari mau meloloskan diri tetapi dipotong lagi tubuh bagian kiri karena badan Doni kekar dia masih lari sampai lolos, Atimus Mom mau membela diri dengan busur dan panah tetapi suku key menyerang duluan dan potong panah dan  potong leher dan bahu kanan sehingga langsung tewas di Tempat, Tekau Mom di kejar samapi dia lari dan masuk di sungai Limbah dan terhanyut samapai ada orang yang menyelamatkan Dia. Mayat Atinus Mom baru di serahkan ke keluarga Elminus Mom,  hari Sabtu  tanggal 16/03/2013 Siang.
Nama-Nama Korban Pembantaian Suku Key
  1. Atinus Mom Tewas di Tempat dengan luka potong di Bagian Leher dan bahu kanan.
  2. Doni Hagabal, luka potong bagian tubuh kanan dan kiri lapis dengan tulang rusuk masih koma di rumah sakit. Caritas di Timika.
  3. Tekau Mom luka potong di tanggan masih di rawat di rumah.
KNPB Mimika telah mengikuti dan memantau situasi ini dan menyimpulkan Masalah yang terjadi antara suku Key dan Suku Damal  ini, hanya gara-gara dulang ampas Emas nyawa manusia jadi korban , PT. Freeport perusahan Raksasa milik Amerika ini,membiarkan masyarakat Pribumi untuk dulang dipingir-pingir sungai Limbah Freeport  sampai korban banyak yang kena kimia, penyakit Paru-paru dan banyak yang mati.  Perintah Indonesia mebiarkan masyarakat ini mendulang di Area PT. Freeport.  Tetapi sebenarnya Situasi ini sedang mengarah pada genosida, dan Penguasa Indonesia maupun korporasi milik AS yang ada diatas tanah Amungsa sengaja membiarkan genosida di Timika, Papua Barat. (WTP-BH)
Berikut Foto-Foto

Mama Suku Damal Meratapi Kesedihan atas kematian Atimus Mom

Sedang di mandikan mayat Atimus Mom

Wakil Bupati Mimika Abdul Muis, Kapores Mimika, Danramil Mimika kawal mayat Atimus Mom

Mama-mama sedang meratapi korban Atimus Mom
 Sumber : KNPBNews.com
21.03 | 0 komentar

Video Pengakuan Korban Penyiksaan Polisi Indonesia

Written By Unknown on Rabu, 20 Februari 2013 | 20.41

Korban Penyiksaan Polisi Indonesia ( doc. Jubi )
JayapuraBenarkah ketujuh orang warga tidak mengalami penyiksaan seperti diakui pihak Kepolisian Daerah Papua maupun Kepolisian Resort Jayapura?
Polisi diduga melakukan penyiksaan terhadap tujuh warga sipil. Ketujuh warga ini mengaku ditangkap di Depapre kemudian dibawa ke kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Doyo untuk diinterogasi soal keberadaan Sebby Sambom dan Teryanus Sato. Saat ditangkap, ketujuh warga mengaku disuruh merayap menuju Polsek Depapre. Dan saat diinterogasi, mereka mengaku dimaki-maki, dipukul, ditendang hingga ditodong senjata oleh Polisi.
“Sampai kasih naik saya ke kursi, tendang, saya jatuh ke bawah, kasih naik saya lagi di kursi, sampe mereka suruh saya mengaku, ko antar Sebby kemana, ko antar Sato kemana?” kata Eneko Pahabol.
Namun pihak kepolisian, baik Kepolisian Daerah (Polda) Papua maupun Kepolisian Resort (Polres) Jayapura, meski mengakui adanya penangkapan, membantah telah melakukan penyiksaan terhadap ketujuh warga yang ditangkap tersebut.
“Karena yang dicari tidak ditemukan akhirnya tujuh orang digiring ke Polres untuk dimintai keterangan. Tapi tidak disiksa. Bahkan saat diperiksa keluarga mereka dipanggil untuk menyaksikan bahwa Polri benar-benar profesional. Jadi tidak ada penyiksaan atau penganiayaan,” kata Kabidhumas Polda Papua, I Gede Sumerta Jaya, Rabu (20/2).

Dua orang korban, Eneko Pahabol (23) dan Obed Bahabol (31) dalam kesaksian mereka, membenarkan bahwa mereka mengalami penyiksaan oleh Polisi. Keduanya mengaku dimaki-maki, dipukul, ditendang hingga ditodong senjata. Simak pengakuan keduanya di VIDEO KESAKSIAN KORBAN, berikut ini. (Jubi/Victor Mambor)
20.41 | 0 komentar

Blog Archives

Total Tayangan Halaman