Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan

Indonesia Janjikan US$ 20 Juta Untuk Peningkatan Kapasitas MSG

Written By Unknown on Minggu, 01 Maret 2015 | 17.20

Pertemuan antara delegasi Menlu Indonesia dan Menlu PNG - kemlu.go.id
Jayapura, Jubi – Memulai kunjungannya ke tiga negara Melanesia, yakni Papua Nugini (PNG), Fiji dan Kepulauan Solomon, Menteri Luar (menlu) Negeri Republik Indonesia, Retno L.P. Marsudi memberikan mesin pemroses kerang dan modul bagi pelatihan UMKM untuk membuat perhiasan berbahan dasar kerang, yang rencananya akan dilaksanakan tahun ini di PNG.
Siaran pers Kementrian Luar Negeri Indonesia yang diterima Jubi, Sabtu (28/2/2015) menyebutkan bahwa kunjungan Menlu Indonesia ke PNG adalah untuk meningkatkan kerangka Kemitraan Strategis yang disetujui pada Plan of Action tahun 2013. Menlu Indonesia sendiri tiba di PNG Jumat (27/2/2015) pagi.
Dalam kunjungan ini, Menlu Indonesia telah bertemu dengan Menlu PNG, Rimbink Pato. Kedua Menlu sepakat bahwa tim teknis kedua negara akan melakukan pertemuan pada tahun ini untuk mendiskusikan ruang lingkup kerja sama pengembangan kapasitas yang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pembangunan Papua Nugini.
Kedua Menlu sepakat mendorong sektor swasta dalam melakukan perdagangan dan investasi lintas batas yang lebih besar.
“Selain kerja sama di bidang ekonomi, RI dan Papua Nugini juga sepakat bekerja sama dalam pemajuan konektivitas serta hubungan antar masyarakat (people-to-people), peningkatan manajemen perbatasan serta penguatan kerja sama di bidang peningkatan kapasitas dan bantuan teknis,” demikian salah satu poin yang disampaikan dalam siaran pers Kemenlu Indonesia.
Disampaikan pula melalui siaran pers ini, Menlu Retno Marsudi telah menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung Papua Nugini sebagai ketua di APEC pada tahun 2018, sebagaimana diputuskan dalam APEC Leaders’ Declaration di Beijing tahun lalu.
“RI dan Papua Nugini juga akan bekerja sama di bidang kepemudaan dan olahraga, pendidikan, serta hubungan antar-budaya dan antar-masyarakat di daerah perbatasan. Kedua Menlu menyambut baik rencana peresmian tugu perbatasan Indonesia-Papua Nugini serta kantor Border Development Agency (BDA) di perbatasan Skouw-Wutung di tahun ini,” bunyi poin lain dalam siaran pers Kemenlu.
Baik Retno maupun Pato mendiskusikan kemungkinan memajukan transportasi udara, infrastruktur jalan di daerah perbatasan serta fasilitas visa-on-arrival untuk meningkatkan pariwisata dan bisnis lintas batas melalui konektivitas yang lebih baik.
Dalam kesempatan kunjungan ini, menlu Indonesia memberikan mesin pemroses kerang dan modul bagi pelatihan UMKM untuk membuat perhiasan berbahan dasar kerang, yang rencananya akan dilaksanakan tahun ini di PNG. Sedangkan Rimbink Pato menyampaikan undangan bagi Menlu Retno untuk hadir di Forum Kepulauan Pasifik pada 7-11 September mendatang di Port Moresby. Sebagai balasan undangan ini, Menlu Retno juga mengundang Papua Nugini untuk menghadiri Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika pada tanggal 19-24 April 2015. (Victor Mambor)
17.20 | 0 komentar

Gubernur Papua Datangi Jokowi Tolak Pembangunan Smelter

Written By Unknown on Jumat, 30 Januari 2015 | 00.19

Gubernur Papua Lukas Enbe. (Foto: Okezone)
Jakarta - Pemerintah daerah (Pemda) Papua menyambangi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan guna menyampaikan penolakan pembangunan pabrik pengolahan atau pemurnian (smelter) oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur. "Kami menolak pembangunan smelter di Gresik oleh Freeport," tegas Gubernur Papua Lukas Enembe di Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/1/2015).
Menurut Lukas, jika pembangunan smelter tersebut dilakukan di Gresik, tidak akan membantu wilayah Papua maju dan berkembang. "Kalau bangun industrinya di Jawa terus, kapan majunya Papua, kapan Papua keluar dari kemiskinan," tegasnya kembali.
Menurutnya, ketersediaan lahan dan infrastruktur listrik cukup memadai di wilayah tambang Freeport, sehingga tidak ada alasan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) enggan membangun smelter di Papua.
"Masalah lahan dan listrik sudah ada di sana, ribuan hektar, ada sumber listrik dari air terjun cukup besar," tukasnya.
Seperti diketahui, PT Freeport Indonesia menyatakan komitmennya untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian bahan mineral (smelter). Untuk pembangunan smelter tersebut, Freeport mengucurkan dana sebesar USD2,3 miliar dan menyewa lahan milik PT Petrokimia Gersik. (mrt)
Sumber :www.okezone.com
00.19 | 0 komentar

Orang Asli Papua Berada Dalam Tekanan Kaum Migran

Written By Unknown on Selasa, 18 Februari 2014 | 15.55

Ki-Ka, Aloysius Renwarin, Musa Sombuk, Yusak Reba (Jubi/Dam)
    Jayapura, 13/2 (Jubi)-Dosen Universitas Negeri Papua (Unipa) Musa Sombuk mengatakan saat ini orang Papua berada di dalam tekanan kaum migran yang sangat tinggi. Tantangan ini akan semakin tinggi jika tidak ada solusi yang terbaik.
    “Saat ini di Kota Jayapura orang Port Numbay hanya 1,2 persen dari jumlah penduduk, ini artinya jumlah mereka hanya sekitar 5000 jiwa saja,” kata Sombuk yang juga anggota KPU Provinsi Papua dalam diskusi bertajuk “Bagaimana Nasib 14 Kursi di DPRP”, Kamis(13/2) di Hotel Grand Abe, Kota Jayapura.
    Dia menambahkan sesuai sensus penduduk dari Biro Pusat Statistik Kota Jayapura pada 2012 jumlah penduduk di Kota Jayapura sebesar 273.928 jiwa.
    Hal senada juga dikatakan mantan Ketua KPU Keerom Aloysius Renwarin membandingkan populasi antara penduduk di Keerom dalam komposisi anggota DPRD Kabupaten Keerom. “Dari 20 anggota DPRD orang asli Keerom hanya tiga orang dan tidak ada perempuan Keerom yang duduk di DPRD,”katanya seraya menambahkan faktor jumlah penduduk sangat berpengaruh dalam menentukan kuota legislatif di DPRD.
    Menurut mantan Direktur Elsham Papua, tidak mungkin orang Papua dipilih oleh orang bukan Papua, sebaliknya orang bukan Papua tak mungkin mau memilih orang Papua.” Ini fakta yang terjadi di Kabupaten Keerom saat ini,”katanya.
    Kondisi di Papua saat ini kata Sombuk hampir sama dengan salah satu negara di Pasifik Selatan, Fiji. “Saat ini jumlah penduduk orang Melanesia lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang India yang datang sebagai pekerja perkebunan tebu di sana,”kata Sombuk yang sudah tujuh tahun studi srtata tiga (S3) sosiologi pertanian di Australia Nasional University.
    Kondisi masyarakat Melanesia Fiji yang menjadi minoritas lanjut Sombuk  membuat salah seorang tokoh di Fiji John Spike mengeluarkan seruan Fiji for Fijian, artinya Fiji hanya untuk orang Fiji saja. Namun kata Sombuk Perdana Menteri Fiji, Voreqe-Bainimarama justru bilang Fiji for all, Fiji untuk semua, mau orang Melanesia kah atau Indiakah semua yang ada di Fiji adalah orang Fiji.
    Dosen FISIP Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, H Zulkifli Hamid dalam buku berjudul Sistem Politik Pasifik Selatan menyebutkan pada 1990 an jumlah penduduk Fiji sebanyak 700.000 jiwa merupakan masyarakat multirasial terdiri dari 50 persen keturunan India, 43 persen anak negeri Fiji, dan 7 persen terdiri dari ras Eropa, Cina, Polinesia dan lain-lain.
    Masyarakat anak negeri atau Melanesia Fiji selain minoritas dari segi kuantitas dan adanya persamaan hak di antara ras utama, kaum anak negeri mempunyai kekhawatiran terhadap keturunan India. Apalagi secara ekonomi kaum anak negeri Fiji jauh tertinggal jika dibandingkan dengan masyarakat India.
    Penduduk keturunan India menguasai perekonomian Fiji, dari industri gula yang merupakan sumber devisa utama sampai kepada industri jasa lainnya. Bukan hanya itu saja bidang-bidang profesi lain dikuasai masyarakat India seperti kedokteran, hukum dan lainnya. Sebaliknya kaum anak negeri Fiji hanya memiliki satu sumber ekonomi yaitu tanah, yang tidak dapat diperjual belikan kecuali disewakan.
    Karena kondisi tersebut jelas kaum anak negeri Fiji harus membutuhkan sesuatu yang dapat melindungi hak-haknya sebagai pemilik tanahnya di negeri. Kondisi ini dipelihara sejak jaman penjajahan Inggris di Fiji. Kudeta yang dilakukan Letkol Sitiveni Rabuka di Fiji tujuannya untuk menjamin supremasi anak negeri Fiji di masa mendatang.(Jubi/dominggus a mampioper)
15.55 | 0 komentar

SBY-Abbott Bertemu Bahas Papua

Written By Unknown on Selasa, 01 Oktober 2013 | 06.27

PM Abbott dan Presiden SBY (Foto: AFP)

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Australia Tony Abbott turut membahas Papua dalam pertemuan mereka. Australia menegaskan kembali komitmennya mendukung NKRI.


"Saya sampaikan kepada PM Australia bahwa kebijakan Indonesia untuk mengelola Papua sudah sangat jelas. Kami mengutamakan pendekatan kesejahteraan, keadilan dan demokrasi," ujar Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Senin (30/9/2013).



"Saya sampaikan kepada beliau, sebagai contoh, pembangunan biaya per kapita di seluruh Indonesia yang paling tinggi sekarang ini adalah Papua. Kami sangat tulus, sangat serius untuk memajukan kesejahteraan saudara-saudara kami di Papua," lanjutnya.



Namun Presiden tidak lupa mengingatkan bahwa ada masalah struktural, masalah lokal yang harus dikelola dengan baik. Menurut SBY, Indonesia adalah negara demokrasi, tentu masalah-masalah ekspresi yang ada di Papua adalah bagian dari demokrasi.



"Saya berterimakasih dan saya senang, bahwa Australia juga menghormati kedaulatan kami dan ikut berkontribusi untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan baik. Yang jelas Indonesia mengambil tanggung jawab penuh untuk mengatasi masalah di papua dengan sebaik-baiknya, sebijak-bijaknya, dengan pendekatan ekonomi, kesejahteraan dan keadilan," tutur Presiden.



Sementara PM Abott menyebutkan diskusi yang dilakukannya dengan SBY berjalan sangat konstruktif. Dirinya menegaskan kembali dukungan Australia atas kedaulatan Indonesia.



"Secara umum Australia sangat menghormati kedaulatan Indonesia. Saya ingin menyatakan, rakyat dan Pemerintah Australia mengambil sikap tidak mendukung siapa saja yang ingin gunakan Australia sebagai tempat untuk menjatuhkan NKRI," tambahnya.



"Saya hargai upaya Indonesia untuk memperbaiki keadaan dan kehidupan di Papua dan Saya yakin mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik dan masa depan baik sebagai bagian dari NKRI," ucap Abbott. (faj)

Sumber : www.okezone.com
06.27 | 0 komentar

Indonesia threatens West Papua 'Freedom Flotilla'

Written By Unknown on Senin, 26 Agustus 2013 | 09.45

A three-vessel Freedom Flotilla carrying some 50 West Papuan and indigenous Australian protesters bound for the restive Indonesian territory of West Papua began its voyage from Queensland, Australia, this past week—to the dismay of both Austrailian and Indonesian authorities. The protestors, who hope "to reconnect two ancient cultures and to reveal the barriers that keep human rights abuses in West Papua from the attention of the international community," expect to make landfall in early September. "The initiative of Indigenous Elders of Australia and West Papua will build global solidarity and highlight the abuses of human rights and land rights carried out under the occupations of their lands on an international stage," the statement on the Flotilla's website reads.

Official reaction to the Flotilla has ranged from dismissive to threatening. "This is just a publicity stunt by some elements trying to get attention," Michael Tene, a spokesman for Indonesia's Foreign Ministry, told the Jakarta Globe. "It will not affect Indonesia or any other country, and it will not affect our work in the Papua provinces." More ominously, Indonesia's deputy minister for security affairs, Agus Barnas, told The Guardian by phone from Jakarta that "the use of weaponry may not be necessary. We won't threaten them with guns, but we want to send them away from Indonesian territory."

Jakarta has also warned Canberra over the Flotilla. Indonesia's President Susilo Bambang Yudhoyono’s spokesman Teuku Faizasyah said that any help Australia provided to the flotilla "won't be good for our bilateral relationships." Australian Foreign Minister Bob Carr  quickly disavowed the protester. The Flotilla's "action is not supported by Australia, it's extremely ill advised, he told Radio National. "I think this activity by a fringe group of Australians offers a cruel hope to the people of the two Indonesian Papuan provinces; that is, a hope that, somehow, independence for the Papuan provinces is on the international agenda, when it’s not. The world recognizes Indonesian sovereignty as we do."

After Indonesian independence in 1949, West Papua remained a Dutch overseas territory until 1962, when Indonesia and the Netherlands signed the New York Agreement at the UN headquarters, formally ending the last Dutch colonial presence in the archipelago. In 1969, the Papua provinces agreed to join Indonesia in a referendum of elders—the legitimacy of which has been questioned ever since by an independence movement. Human rights abuses have been growing in recent years, and the Jakarta government effectively bars journalists from covering the independence struggle. (The Guardian, Aug. 20; Jakarta Globe, Aug. 19)

Sumber : www.ww4report.com
09.45 | 0 komentar

Gubernur Tuding Jubi Media KNPB, Ini Komentar Public

Written By Unknown on Minggu, 25 Agustus 2013 | 02.58

Gubernur Papua, Lukas Enembe (Jubi/Aprilla)
Jayapura – Terkait pemberitaan tudingan Gubernur Papua, Lukas Enembe yang tiba-tiba menyebut media online tabloidjubi.com dan Majalah Jubi sebagai media Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA di Abepura, Kota Jayapura, Sabtu, 17 Agustus 2013 lalu, menuai beragam komentar dari warga.
Pantauan tabloidjubi.com terhadap pemberitaan Gubernur Papua : JUBI Itu Media KNPB hingga Sabtu, 24 Agustus 2013, jumlah pembaca berita itu sudah mencapai ribuan lebih.Tak hanya itu, sebanyak 47 komentar warga pembaca terpampang di bawah berita tersebut. Sebagian warga mengulangi komentarnya. Komentar yang ditulis di dinding website online tabloidjubi.com, tepatnya di bawah berita tudingan ini, beragam. Kebanyakan komentar bernada emosi dan sindirian. Lainnya lagi, bernada memojokan, nasihat dan memuji media JUBI.
Komentar dibuka oleh Pimpinan Redaksi online tabloidjubi.com dan Majalah Jubi, Victor Mambor. Victor menulis, menjadi jujur terkadang menyakitkan bagi sebagian orang. Komentar Victor ditanggapi dengan nada sindiran oleh Sabaruddin A Paembonan. Sabaruddin menulis, awas jagan sampai terbalik. Dari komentar Sabaruddin, Yander Rumaropen Jenures malah emosi. Yander menulis komentarnya dengan nada emosi menyebut Sabaruddin A Paembonan. Komentar sindiran tak henti-hentinya menyerang Victor Mambor. BJ Kammi Wondei menyindir komentar Victor dengan menulis, lebih menyakitkan apabila sudah tergoda.
Komentar emosi dan tertawa serta salut untukJUBI, datang dari Komite Pusat Amp. Komite ini menulis, coba periksa pace gub di dokter spesialis saraf, jangan sampe dia kena kangker saraf tu. hehehe. Setelah emosi dan tertawa, komite ini salut kepada JUBI. “Salut untuk smua crew Jubi. Jabat erat selalu. Salju!,” tulis Komite Amp lagi. Wenas Denny Gimbal Kobogau menanggapi komentar Amp dengan menyatakan, betul kom. kasihan objek NKRI ini.
Komentar berbeda datang dari Aston Situmorang. Aston membuka komentarnya dengan tertawa panjang, selanjutnya mengkritik Gubernur Lukas. “Hahahahha. besok-besok kalo JUBI muat tentang pencurian, pemerkosaan, dinggap JUBI pencuri dan pemerkosa. xixixixixi. Aneh tuh kesimpulannya BOS. Saya yakin Gub tidak cukup waktu untuk baca JUBI ONLINE sehingga penasihatnya atau karena tekanan yang membisik aneh-aneh buat Gub statementnya malah kabuuuurrrrr.Tapi, semoga hal ini menjadikan JUBI terpacu untuk makin giat memberitakan apa yang benar dan seharusnya. Ini makna Kebebasan Pers yang mesti dihargai siapapun sekalipun oleh Gubernur,” tulis Aston.
Kritikan tajam lainnya terhadap Gubernur Lukas Enembe, terkuak dalam komentar Dommy Rumere Simyapen. “Terbentuk Jubi di Papua dan siapa yang membentuk harusnya , Pa Gub Harus Tau,” tulis Dommy. Meski BJ Kammi Wondei sudah berkomentar, namun ia kembali lagi mengkritik dan menertawakan Gubernur. “Hahahahhaa sudah tra jelas nih. Seorang publik figur. Jadi kedodoran tanpa, sudah parah informannya gubernur terlalu mempengaruhi pola pandang gubernur????,” tulis BJ Kammi.
Ada satu komentar yang menilai wajar Gubernur berkomentar demikian. “Karena media cetak dan elektronik punya kepentingan bisnis dan poltik. media cetak/elektronik, punya kepentingan (bisnis dan politik). Dan itu ada pada pemiliknya (sponsornya). Wajar saja. Orang/institusi yang dikritik itu merespons/reaksi. itu juga wajar. no problem,” tulis Untung Muhdiarto. Tak hanya sejumlah komentar ini, sederet komentar lainnya bervariasi antre dibawah diding berita.
Diantaranya, dari Aby Yohame. Aby menulis, sebenarnya pa gubernur sampaikan langsung ke personil media atau secara resmi dan tertulis sebagai bntuk pembinaan, kalau berbisik kepada Pangdam, orang Papua menilai seakan mengadu, sebelum semua kebijkan berpihak yang baik terwujud jangan sampai orang Papua merasa ditampar. “Sekarang semua saluran akspresi seakan disumbat kecuali media online, harap pa Gub. Sebgai anak daerah yang pernah menyaksikan penderitaan karena orang Papua berekspresi, mohon dengan sabar merangkul sebagai gubernur. Jangan pernah berbisik ke Pangdam atau Kapolda, bisa saja orang Papua menilai pa Gub lebih banyak dengar bisikan disekitarnya, wa noe,” tulis Aby dalam lanjutan komentarnya.
Puluhan komentar itu ditutup oleh Turius Wenda. “Malu aku tunjukan dan menjual kebodohan. Coba cek baik-baik, mungkin dia salah sebut atau salah dengar ngalah seorang Gubernur bicara demikian,” tulis Turius Wenda menutup 47 komentar yang tertapampang di bawah pemberitaan berjudul Gubernur Papua : JUBI Itu Media KNPB. (Jubi/Beny)

Sumber : http://tabloidjubi.com
02.58 | 0 komentar

Larang KNPB Aksi, Polda Papua Langgar Konstitusi Indonesia

Written By Unknown on Senin, 10 Juni 2013 | 00.59


Oleh : Roy Karoba
Ilustrasi Polisi di Papua (Jubi/Timoteus)
Ilustrasi Polisi di Papua (Jubi/Timoteus)
Kepolisian Republik Indonesia Daerah Papua ( POLDA ) kembali membungkam ruang demokrasi di Tanah Papua, hal ini terlihat dari sikap Polda papua yang tidak memberikan ijin kepada aktivis KNPB yang akan melakukan aksi damai bersama rakyat Papua pada tanggal 10 Juni 2013.  Lebih parahnya lagi, Polda Papua tidak membalas surat pemberitahuan aksi yang disampaikan oleh KNPB kepada Polda Papua, namun Polda Papua justru menyampaikan pernyataan larangan aksi yang akan dilakukan oleh Komite Nasional Papua Barat ( KNPB ) bersama rakyat Papua lewat Media Lokal yang ada di Papua.
Sikap Polda Papua ini, tidak hanya terjadi saat ini saja, namun sebelumnya juga pernah terjadi hal yang sama, dimana ketika KNPB sebagai media Nasional Rakyat Papua bersama Rakyat Papua hendak melakukan aksi pada tanggal 13 Mei 2013, KNPB telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Polda Papua 3 hari sebelum aksi digelar, namun Polda Papua melarang aksi tersebut dengan mengeluarkan pernyataan larangan aksi di media local.
Larangan aksi yang dikeluarkan oleh Polda Papua kepada KNPB dan Rakyat Papua, sebenarnya sangat tidak beralasan dan hal ini jelas – jelas telah melanggar UUD 1945 yang merupakan Konstitusi Negara Indonesia. Dimana kita ketahui bersama bahwa, dalam pasal 28 UUD 1945 sendiri mengatur tentang kebebasan berekspresi bagi setiap orang secara individu ataupun kelompok dalam menyampaikan aspirasi, dan bukankah Indonesia menganut sistem demokrasi, yang berarti setiap orang berhak untuk menentukan pilihannya masing – masing! Jika demikian, mengapa Polda Papua melarang Rakyat Papua untuk menyampaikan pendapat mereka di depan public ?
Sikap Polda Papua yang melarang KNPB dan Rakyat Papua dalam menyampaikan pendapat dan aspirasi di depan public ini, sangat jelas telah melanggar Institusi Negara dan Sistem yang dianut oleh Indonesia, maka dengan demikian, Polda Papua telah membungkam Ruang Demokrasi di Papua dan telah melakukan Pelanggaran HAM berat kepada Rakyat Papua, dan untuk itu Polda Papua dapat dikategorikan sebagai Provokator atau Pengacau di Tanah Papua.
Dengan sikap Polda Papua yang merupakan bagian dari salah satu institusi penegak hokum di Indonesia ini, maka kami menyatakan bahwa “ Indonesia Tidak Layak Disebut Sebagai Negara Demokrasi, dan Konstitusi Indonesia Sebaiknya Dihapus Saja ”. [RK]

00.59 | 0 komentar

Aksi 13 Mei Murni Tuntut Keadilan Masalah HAM di Papua

Written By Unknown on Rabu, 15 Mei 2013 | 20.15


Beberapa elemen yang tergabung dalam Solidariotas Penegakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, saat jumpa pers di Abepura (Jubi/Eveerth)
Beberapa elemen yang tergabung dalam Solidariotas Penegakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, saat jumpa pers di Abepura (Jubi/Eveerth)
Jayapura — Solidaritas Penegakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, menyatakan aksi Senin, t 13 Mei 2013 adalah murni menuntut keadilan atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di bumi Cenderawasih. Namun aksi ini dilarang oleh aparat Kepolisian.
Seperti diketahui sebelumnya, Aksi Peringatan 1 Mei 2013 yang oleh Rakyat Papua dikenang sebagai Hari Peringatan 50 Tahun Aneksasi Wilayah Papua Barat (New Guinea) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sempat diperingati secara berbeda di beberapa tempat.
Namun dalam aksi-aksi peringatan itu, pihak aparat keamanan Indonesia (TNI/Polisi) telah melakukan rangkaian tindakan represif dan brutal terhadap setiap aksi yang dilakukan di beberapa daerah seperti, Sorong, Fak-fak, Biak, Nabire dan Timika.
“Pihak keamanan RI seolah berpegang teguh pada landasan klasik yang terus menjadi kontroversi hingga saat ini bahwa pada 1 Mei 1963 silam, Papua telah bergabung kembali ke dalam pangkuan Ibu pertiwi. Karena itu, otoritas wilayah NKRI mutlak harga mati dan tidak bisa diganggu gugat,”
ujar Wim Rocky Medlama, selaku Juru Bicara KNPB, di Abepura, Rabu(15/5).
Dijelaskan, pada malam menjelang peringatan hari Aneksasi 1 Mei 2013 di Sorong misalnya, sempat terjadi peristiwa tragis yang memakam korban. Dimana pihak keamanan Indonesia (gabungan Polisi/TNI) pada Jumat malam, 30 April 2013, telah melakukan penyerangan membabi buta terhadap warga Papua di sebuah kompleks di Aimas Sorong.
“Dalam aksi penyerangan itu, sejumlah warga mengalami luka-luka, termasuk dua orang Papua berusia muda tewas di tempat kejadian. Mereka adalah Abner Malagawa (20 thn) dan Thomas Blesia (28 thn) yang tewas akibat timah panas yang menerjang tubuh mereka,”
jelasnya.
Sedangkan seorang perempuan bernama Salomina Klaibin (37 thn) yang juga tertembus peluru, akhirnya meninggal dunia setelah sempat kritis saat menjalani operasi mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya pada salah satu rumah sakit di Sorong.
“Menanggapi tindakan represif aparat keamanan Indonesia di berbagai wilayah Papua pada peringatan 1 Mei 2013, terlebih peristiwa tragis di Aimas Sorong, sejumlah aktivis Papua di Jayapura yang terdiri dari para pemuda dan mahasiswa lalu melakukan pertemuan koordinasi secara berturut-turut di beberapa tempat di sekitar Abepura. Pertemuan koorrdinasi kemudian lebih dititik beratkan pada upaya menanggapi peristiwa berdarah yang terjadi di Aimas Sorong,”
paparnya.
Dari sekian pertemuan yang dihadiri para aktivis yang berasal dari sejumlah organ gerakan dan organisasi mahasiswa, dihasilkan kesepakatan agar perlu menyikapi tindakan represif aparat keamanan Indonesia atas rakyat Papua di Sorong dan beberapa daerah lain melalui aksi solidaritas peduli HAM.
“Aksi solidaritas dimaksud rencananya dilakukan dalam bentuk pemberian pernyaatan pers bersama dengan mengundang wartawan kemudian nantinya akan dilanjutkan dengan aksi protes bersama (demonstrasi massa) ke kantor MRP, DPRP atau ke Kantor Gubernur Papua,”
katanya.
Setelah melewati berbagai tahapan koordinasi, katanya, guna memuluskan rencana aksi demo pada Senin 13 Mei 2013, tim solidaritas aksi lalu membuat surat pemberitahuan rencana aksi yang ditujukan kepada pihak Kepolisian Daerah (Polda) Papua dan Kepolisian Resort Kota Jayapura. Surat itu kemudian dimasukan pada Jumat 10 Mei.
Dalam surat yang dimasukan ke pihak kepolisian itu, di dalamnya tertera beberapa nama penanggung jawab aksi seperti; Yason Ngelia dan Septi Maidodga selaku perwakilan BEM-MPM Uncen, Bovit Bofra selaku ketua Gerakan Rakyat Demokratik Papua (Garda-P), Victor Yeimo sebagai ketua Komite Nasional Papua Barat/KNPB) dan Marthen Manggaprouw dari perwakilan West Papua National Autority (WPNA).
Kemudian, pada sore harinya dilanjutkan dengan pertemuan koordinasi lanjutan antara para aktivis yang tergabung dalam rencana aksi solidaritas.
Satu hari selepas surat pemberitahuan pelaksaan aksi dimasukan, pihak Polda Papua melalui staf bidang Intelijen dan keamanan (Intelkam) lalu menghubungi via phone dan meminta perwakilan penanggung jawab aksi untuk dapat bertemu direktur Intelkam Polda perihal aksi yang bakal digelar.
Bovit Bofra dan Yason Ngelia selaku perwakilan penanggung jawab aksi lalu memenuhi panggilan Markas Polda Papua yang berada di jantung Kota Jayapura, Sabtu 11 Mei, jam 09 pagi. Mereka bertemu direktur Bidang Intelkam Polda Papua Kombes (Pol) Yakobus Marzuki.
Dalam pertemuan kecil yang berlangsung cukup alot dan tegang di ruang Direktur Intelkam Polda, Kombes Yakobus Marzuki meminta mereka mengklarifikasi rencana aksi yang bakal digelar.
“Selain mempersoalkan keabsahan organ-organ yang tergabung dalam aksi solidaritas karena keberadaanya tidak terdaftar di Badan Kesbangpol. Pihak Polda juga mempersoalkan surat pemberitahuan rencana aksi yang dianggap terlalu mempolitisasi keadaan karena berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat (kantibmas),”
ucapnya.
Sebab dalam isi surat pemberitahuan rencana aksi yang ditujukan ke Polda Papua dan Polresta Jayapura itu disebutkan bahwa kasus penyerbuaan yang dilakukan pihak aparat gabungan TNI-Polisi di Aimas Sorong sebagai sebuah “tragedi kemanusiaan” karena menyebabkan rakyat sipil Papua menjadi korban.
Istilah “tragedi’ dalam isi surat itu menurut direktur Intelkam Polda Kombes Yakobus Marzuki) sangat tidak mendasar dan tidak bisa diterima. Sebaliknya, menurut dia, aksi yang dilakukan oleh aparat keamanan itu sudah sesuai prosedur hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
Menurut dia, kelompok yang menjadi sasaran penyergapan di Aimas Sorong itu terindikasi kuat bakal membahayakan stabilitas keamanan Negara Indonesia lewat peringatan 1 Mei 2013. Setelah menyampaikan statemen demikian, Direktur Intelkam Polda Papua kemudian mengeluarkan selembar surat penolakan pelaksanaan aksi yang berlangsung pada Senin 13 Mei 2013.
Cuma saja, dalam isi surat penolakan itu hanya disebutkan nama Victor Yeimo selaku ketua KNPB yang menjadi penanggung jawab aksi. Padahal sesuai surat pemberitahuan aksi sebelumnya, jelas tercamtum beberapa nama penanggung jawab aksi yang mewakili organisasi mereka masing-masing.
Selain itu, Direktur Intelkam juga menegaskan sikap Gubernur Papua Lukas Enembe, yang mengatakan bahwa aksi-aksi demonstrasi hanya akan menghambat proses pembangunan di Papua. Menanggapi peryataan itu, Bovit dan Yason lalu mengklarifikasi isi surat penolakan dari Polda Papua itu dan maksud rencana aksi yang hendak dilakukan. Namun tetap terjadi tawar menawar dengan berbagai argumentasi selama kurang lebih 20 menit.
Karena tidak ada kesepakatan bersama, akhirnya Bovit Bofra dan Yason Ngelia dengan terpaksa menegaskan komitmen mereka bahwa sesuai kesepakatan, aksi tetap akan dilakukan pada Senin 13 Mei 2013.
Namun, Direktur Intelkam juga menanggapi dengan menegaskan bahwa pihaknya (Polda Papua) tetap tidak mengijinkan dan menghendaki aksi itu dilakukan. Bila aksi tetap dipaksakan, para penanggung jawab aksi beserta massa yang terlibat siap menghadapi segala resiko yang terjadi, termasuk konsekuensi hukumnya. (Jubi/Eveerth)
May 15, 2013,20:33,TJ
20.15 | 0 komentar

Kampanye Internasional Lewat Facebook Dan SMS Minta Victor Yeimo Dibebaskan

Written By Unknown on Selasa, 14 Mei 2013 | 17.49

Laman FB Free West Papua Campaign (facebook.com)
Jayapura – Kelompok Jejaring Sosial di Facebook yang menamakan dirinya Kampanye Internasional Papua Merdeka (Free West Papua Campaign) meminta masyarakat untuk memberitahu kepada Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua, Irjenpol. Tito Karnavian bahwa dunia sedang mengamati Papua dan dirinya.
 
Kelompok di dunia maya yang diikuti lebih dari 17.000 pemilik akun Facebook ini meminta masyarakat mengirimkan pesan pendek (SMS) kepada Kapolda Papua yang berbunyi : “Bebaskan Victor Yeimo dan aktivis KNPB. Kami mengawasi dengan cermat apa yang Anda lakukan. Anda harus Menghormati hak asasi Manusia Internasional.” dan dalam bahasa Inggris “/Free Victor Yeimo and the KNPB activists. We are watching closely what you are doing. You must respect international human rights./”

Victor Yeimo bersama tiga orang rekannya di Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ditangkap oleh polisi saat menggelar demonstrasi damai untuk memprotes penggunaan senjata berlebihan oleh aparat keamanan terhadap warga Distrik Aimas, Sorong, yang menewaskan tiga orang, Senin (14/05) kemarin.

Sebelumnya, Kepolisian daerah Papua mengklaim penembakan yang menewaskan 3 orang warga distrik Aimas, Sorong, pada tanggal 30 April 2013 itu sudah melalui prosedur yang benar.

“Polisi terpaksa harus melakukan pembelaan diri dengan mengeluarkan tembakan, karena ratusan massa yang menggelar aksi demo menyerang menggunakan senjata tajam. Massa anarkis, menyerang anggota yang sedang berpatroli, serta membakar mobil Wakapolres Aimas, sehingga sesuai prosedur dikeluarkan tembakan pembelaan diri,” kata I Gede saat dikonfirmasi tabloidjubi.com, Sabtu malam (4/5).

Kapolda Papua atas berbagai insiden yang terjadi sejak dirinya menjabat Kapolda, dituding oleh aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai “otak” dibalik berbagai aksi penangkapan, pembunuhan, hingga pemenjarahan para aktivis di tanah Papua.

“Saat Tito Karnavian dilantik pada 3 September 2012, ruang demokrasi di tanah Papua semakin ditutup rapat-rapat. Banyak aktivis Papua yang ditangkap, dibunuh, dan bahkan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas,” ujar Dorus Wakum, seorang aktivis HAM Papua, seperti dikutip dari suarapapua.com.

Saat ini, ketiga rekan Yeimo, masing-masing Marthen Manggaprou, Yongky Ulimpa dan Elly Kobak sudah dibebaskan. Sementara Victor Yeimo diserahkan ke LP Abepura dengan alasan harus menjalani sisa masa tahannya. (Jubi/Benny Mawel)


17.49 | 0 komentar

Aksi Demo Damai Hari ini Diblokade Polisi, Ketua Umum KNPB dan 3 Demonstran Ditangkap

Written By Unknown on Senin, 13 Mei 2013 | 21.50

Victor Yeimo (Ketua Umum KNPB)
Jayapura - Seperti direncanakan KNPB dan beberapa Organ gerakan, akan melakukan demo damai di Kantor Majelis Rayat Papua (MRP). Tujuan demo damai untuk mendesak Pemerintah Provinsi Papua Gubernur, Pangdam dan Polda Papua segera bertanggungjawab, atas korban penembakan dan penangkapan pada 1 Mei 2013.
Selain itu, tergait korban tembak dan Penangkapan di sejumlah tempat sepertinya Timika, Sorong, Biak dan Jayapura pada 1 Mei itu. Demo damai hari ini untuk “Mendesak Pemerintah RI agar membuka akses Jurnalis Internasional dan Pelapor Khusus Dewan HAM PBB ke Papua”.
Ketika sesuai rencana yang telah direncanakan untuk demo damai. Jayapura hari ini tanggal (13 Mei 2013). Demo damai yang dipimpin KNPB hari ini, ratusan demonstran turun jalan. Namun dari tengah jalan di Perumnas 3 Waena Polisi hadang demonstran yang dipimpin Victor Yeimo.
Polda Papua melaui Kapolres Jayapura yang dipimpin AKBP Alfred Papare, SIK, hadang demonstran tepat pukul: 10:12 wp. Victor Yeimo sempat negosiasi dengan pihak Kapolres Jayapura yang telah dihadang. Dengan tujuan demonstran tetap akan menuju ke tempat tujuan demo damai, di Kantor MRP Kota Raja Abepura Jayapura. Tetapi Kapolres Jayapura tidak mengindakannya, perkataan tujuan demonstran untuk menuju Kantor MRP.
Sempat tawar menawar terjadi antara Kapolres Jayapura dan Demonstran KNPB yang di pimpin Viktor Yeimo, tadi. Akhirnya Kapolres Jayapura menangkap 4 orang yang adalah sebagai demonstran, diantaranya: Victor Yeimo (Ketua Umum KNPB), Yongki Ulimpa Pria (23) tahun, Ely Kobak Pria (17) tahun dan Marthen Manggaprow. Mereka ditangkap Polisi Kapolres Jayapura, dan selanjutnya dibawa ke Polda Papua. 4 orang ini saat ditangkap mereka disiksa dan dipukul oleh anggota Polisi satuan Polres Jayapura.
Demo damai hari ini di Kota Jayapura Polisi batalkan, dan 4 orang yang ditangkap masih ditahan di Polda, karena untuk kepentingan minta keterangan, terkait demo damai hari ini. Ratusan pendemo lainnya melarikan diri di sekitar tempat kejadian penangkapan.
Masyarakat disekitar tempat kejadian panic, dan aparat anggota Polisi di Sentani, Abe dan Jayapura Kota melakukan Swiping. Polisi menggunakan tank-tank, mobil Polisi gas air mata dan mobil tahanan serta Truck Polisi. Polisi menguasai semua ruas jalan setiap perempatan, di sekitar sentani dan Abepura.
Polisi dengan dalih terror mental terhadap semua masyarakat Papua di Jayapura dan Sentani hari ini tidak seperti yang dilakukan Polisi saat Penghadangan demonstran KNPB pada waktu lalu.
Pembungkaman demokrasi terus dilakukan aparat kepolisian RI dalam hal ini Polda Papua. Ruang gerak untuk menyuarakan hak demokrasi rakyat Papua, sempit. Selalu membatasi ruang gerak hak demokrasi rakyat Papua, dengan cara terror mental, menangkap, menembak demonstran, Menghadang Pendemo dan membatasi melakukan demo damai.

Sumber : www.knpbnews.com
21.50 | 0 komentar

Polisi Indonesia Lakukan Penangkapan dan Pemukulan Terhadap Aktivis Papua

Aparat Polisi di Papua ( IST )
Jayapura - Hari ini, aktivis Papua hendak melakukan aksi. Menurut Marthen Manggaprou, Viki dan Bovit, mereka telah memberikan surat pemberitahuan aksi tanggal 10 mei 2013, untuk rencana aksi tanggal 13 mei 2013, sesuai UU yang berlaku di RI. Namun sayang sekali, massa aksi tidak diijinkan aksi oleh Polda Papua. Polda membubarkan Paksa massa aksi dan mengkap 5 aktivis Papua.Kelima Aktivis tersebut adalah: Yongky Ul impa (23), Ely Kobak (17), Marthen Manggaprow, Victor Yeimo dan Bovit.


Kelima aktivis tidak hanya ditangkap, tapi juga dipukul dan dibawa ke Polda Papua Alasan penangkapan oleh Polda hanyalah karena tidak terdaftar di Kesbang. Para aktivis ditangkap pada 10.00. Aparat menggerakan kekuatan Brimob dan Dalmas dengan peralatan, 2 Brakuda, 1 panser dan 10truk dilengkapi senjata tajam. Represif yang tinggi hanya membuat situasi di Jayapura mencekam. 

17.42 | 0 komentar

Yona Wenda Nyatakan Mendukung Dialog Jakarta - Papua

Written By Unknown on Rabu, 24 April 2013 | 23.30

Yona Wenda (Jubi/Mawel)
Jayapura - Menurut Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM), Yona Wenda, masukanya wilayah Papua Barat melalui Pepera 1969 ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi akar masalah di Papua.
“Cara Papua masuk ke dalam wilayah NKRI menjadi persoalan besar. Tahun 2013 ini genap aneksasi dan kekerasan RI di Papua yang ke 50 tahun,” ujar Yona Wenda di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Selasa (23/4).
Konflik yang sudah menelan 50 tahun ini, belum pernah ada solusi yang tepat. Solusi yang diambil malah menambah masalah yang hendak diselesaikan. Solusi pendekatan keamanan melahirkan korban berjatuhan. Penegakan hukum mengiring banyak orang ke penjara. Situasi ini berlangsung di masa pemerintahan orde baru.
Di jaman reformasi, pemerintah Jakarta berbenah diri atas desakan keinginan orang Papua keluar dari NKRI dengan menerapkan UU Otonomu Khusus (Otsus) Papua. Otsus Papua belum mampu menjawab persoalan. Penolakan pun terjadi pada tahun 2005 dan kemudian pada tahun 2011 melalui musyawarah MRP dengan masyarakat adat Papua.
Secara tersirat, pemerintah Indonesia mengakui kegagalan itu dengan menggulirkan UP4B. UU ini kemudian mendapat sorotan banyak orang. Banyak orang kuatir sama nasibnya dengan Otsus. “Implemtasi UP4B pasti sama dengan Otsus,” kata ujar almarhum Mako Tabuni dalam satu orasi di halaman kantor MRP.
Sambil menolak dengan satu kekuatiran, banyak orang Papua bertanya-tanya solusi selanjutnya. “Apa solusi kalau semua ini gagal?” tanya drg. Aloisius Giay, Ketua LMA Pengunungan Tengah Papua dalam acara peluncuran buku berjudul Mati atau Hidup karya Markus Haluk, Senin (23/4) lalu.
Namun ada satu solusi yang ditawarkan, yakni ada yang menginginkan ruang dialog antara Jakarta dan Papua. Keinginan dialog itu makin jelas dengan menunjuk lima juru ruding orang Papua melalui Konfersi Dialog Jakarta-Papua yang dimotori Jaringan Damai Papua di Auditorium Uncen di Tahun 2012 lalu. Kini lima juru ruding itu mendapat dukungan penuh dari TPN-OPM. “Kami sudah sepakati dan kami dukung,” tegas Yona.
Menurut Yona, pihak TPN-OPM mendukung penuh karya Jaringan Damai Papua untuk terselenggarakannya dialog Jakarta Papua. “Kita mau perudingan atau dialog itu pegertian dalam bahasa Inggris. Bedanya istilah saja. Kalau dialog yang diperjuangkan itu demi adanya ruang dialog, kami mendukung. Sehingga harap pemerintah Indonesia buka ruang dialog. Jakarta perlu membuka ruang dialog  dengan lima juru ruding yang ditunjuk orang Papua,” katanya.
Tapi kata Yona, jika pemerintah Indonesia membuka ruang dialog, pihak TPN-OPM tidak akan pernah terlibat. “TPN-OPM menyerahkan semua itu kepada lima juru ruding. Kami ini keamanan sifatnya hanya pemantau saja. Saya juga menolak dialog yang diwacanakan Gubenur Papua, Lukas Enembe. Mau dialog dengan OPM ini harus jelas, OPM yang mana? OPM ini kan bisa diciptakan,” tegasnya.(Jubi/Mawel)
23.30 | 0 komentar

KNPB Serukan Peringatan 1 Mei Sebagai Pendudukan Ilegal Indonesia Di Tanah Papua

Victor Yeimo (abc.net.au)
Jayapura – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyerukan kepada seluruh rakyat Papua, baik diluar maupun yang ada diatas tanah Papua agar mengenang dan memperingati 50 tahun pendudukan kolonial Indonesia di Papua dalam bentuk Aksi Damai, Ibadah dan atau Mimbar Bebas di Gereja atau di Lapangan Terbuka, pada tanggal 1 Mei 2013 mendatang.
Dilansir dari website resmi KNPB, tanggal 1 Mei 1963 disebutkan bahwa Indonesia secara ilegal menduduki wilayah Papua. Dengan demikian, pada 1 Mei 2013 nanti, tepat sudah 50 tahun atau setengah abad lamanya Indonesia menganeksasi Papua kedalam NKRI. Hari itu Rakyat Papua mengenangnya sebagai hari awal penderitaan bangsa Papua.
Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo dalam seruan KNPB tersebut mengatakan selama 50 tahun ini, bangsa Papua meratapi hidup penuh penderitaan dalam kekuasaan penjajah Indonesia. Diatas negeri emas, anak negeri mati terkurap busung lapar. Migran luar (pendatang) seakan-akan menjadi penghuni, penguasa dan pemilik tanah Papua, sedang kami yang hitam keriting terpinggir, terpojok, terkucil, tertindas, terperangkap dalam rantai penguasa dan pendatang diatas tanah pusaka milik bangsa Papua.
“Cukup sudah! Kami bukan bangsa budak, kami bangsa bermartabat. Kami tidak butuh Indonesia di Papua. Orang Papua tidak pernah mengundang apalagi menghendaki Indonesia untuk menginjakan kakinya diatas tanah Papua pada 1 Mei 1961. Kami tidak pernah berintegrasi dalam Indonesia, tetapi Indonesia menganeksasi bangsa Papua dengan paksa dibawah todongan senjata. Karena itu, pendudukan Indonesia diatas tanah Papua adalah ilegal sesuai hukum internasional dan berstatus PENJAJAH diatas tanah Papua.” kata Yeimo. (Jubi/Victor Mambor)

23.07 | 0 komentar

Jelang 1 Mei Polda Papua Perketat Penjagaan

Kapolresta Jayapura AKBP Alfred Papare (Jubi/Levi)
Jayapura - Kapolresta Jayapura, AKBP Alfred Papare megatakan, dalam rangka peringatan kembalinya Papua ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei mendatang, pihak Kepolisian telah mempersiapkan sebanyak kurang lebih 1000 personil untuk pengamanan.
“Mereka akan disiagakan di beberapa titik, seperti Expo Waena, Perumnas Tiga Waena dan daerah Yapis Dok Lima Jayapura, serta Lingkaran Abepura,” ungkap Alfred ke tabloidjubi.com di Kantor Walikota Jayapura, Selasa (23/4).
Selain pengamanan, kata Alfred, aparat keamanan baik dari TNI/Polri di Kota Jayapura akan melaksanakan pengamanan terhadap kegiatan- kegiatan yang akan dilakukan seperti razia siang dan malam. “Pada prinsipnya kita tak memberikan ijin ke siapapun masyarakat untuk menggelar acara dalam peringatan 1 Mei itu,” jelasnya.
Kegiatan sosial yang lain  seperti  Parade di Taman Imbi dan pawai Walikota Jayapura. Sampai hari ini, Kota Jayapura sejuah ini aman. Peringatan hari kembalinya NKRI ini juga memperlihatkan kepada masyrakat Papua siapa yang menjadi pahlawan nasional asal Papua. (Jubi/Sindung)

Sumber : www.tabloidjubi.com
04.39 | 0 komentar

Pangdam Coba Redam Isu Penyerangan 1 Mei

Written By Unknown on Senin, 22 April 2013 | 22.35

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua   (Jubi/Levi)
Jayapura-Pangdam XVII/Cenderawasih akan terus mencoba meredam isu yang beredar, pada 1 Mei mendatang akan ada penyerangan yang dilakukan kelompok bersenjata.

“Ada isu yang mengatakan, 1 Mei nanti mereka akan melakukan suatu gerakan dan penyerangan, tapi kita coba redam itu. Masa sih sesama saudara saling menyerang, tapi kalau mereka ganggu kita pasti akan merespon dengan keras bersama polisi. Tak akan saya biarkan rakyat atau prajurit terganggu, itu sudah pasti,” kata Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua kepada wartawan usai melakukan pertermuan dengan Komisi I DPR RI, Sasana Karya Kantor Gubernur Papua-Jayapura, Senin (22/4).

Menurut dia, dengan adanya isu penyerangan itu, pihaknya sudah coba komunikasikan, kalau memang ada beda paham silahkan, namun jangan sampai harus saling membunuh. “Kalau mereka dengan bersenjata, pasti saya hantam dan tumpas. Saya tidak akan biarkan rakyat atau prajurit terganggu,” tambahnya.

Saat ditanya dari kelompok mana yang akan melakukan penyerangan, ujar Pangdam, media lebih banyak tahu, karena ada ditulis. “Saya sebenarnya tidak terlalu serius menanggapi itu, biasalah saudara-saudara kita mungkin tidak merasa puas, tapi intinya kita siap mengantisipasi itu,” tegasnya.

Menyinggung soal Kasus Sinak, jelas Pangdam, masalah ini sudah ditangani oleh pihak Kepolisian dan pelakunya sudah kami tangkap, karena memang negara kita ini adalah negara hukum.

“Siapapun tidak boleh melanggar hukum. Jangankan mereka bersenjata, panglimapun tidak boleh melanggar hukum, ada konsekuensinya kalau melanggar hukum dan itu harus tegas. Saya dan Kapolda tegas menangani itu, tidak akan bermain-main,” ujarnya.

Pada kesempatan itu juga, Pangdam menyampaikan, dengan adanya pertemuan dengan DPR RI, dirinya berharap Komisi I bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Papua. “Soal Papua, sebenarnya tidak seperti apa yang kadang-kadang disuarakan di Jakarta. Pasalnya masyarakat kita tidak ada kok yang menyatakan diri mau merdeka dan sebagainya. Inikan hanya elit-elit tertentu saja. Masyarakat kita pada dasarnya senang kok dengan kesejahteraanya meningkat. Jadi mulai tingkat kabupaten/kota kerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan, sementara TNI menciptakan kondisi aman,” katanya.

Sekadar untuk diketahui, perayaan 1 Mei atau hari kembalinya Papua ke pangkuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) rencananya akan dipusatkan di wilayah Sorong, Papua Barat. Dimana perayaan itu akan dilakukan oleh Gubernur Papua Barat beserta perangkatnya dibantu oleh jajaran TNI. (Jubi/Alex)

Sumber : www.tabloidjubi.com
22.35 | 0 komentar

Tak Ada Penyelundupan 36 Butir Peluru di Tigi Barat

Written By Unknown on Rabu, 17 April 2013 | 00.45

Warga Distrik Tigi Barat saat pertemuan (Jubi/Markus You)
Deiyai — Masyarakat di Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Senin (15/4) kemarin dibuat tegang lantaran tersiarnya isu bahwa seseorang telah menyelundupkan amunisi berupa 36 butir peluru. Isu penyelundupan itu dicium pihak keamanan. Aparat gabungan Polri dan TNI diturunkan ke Kampung Tenedagi untuk menyita dan mengungkapnya. Namun isu itu tak terbukti.
Kepala Kampung dan Tokoh Gereja bersama masyarakat setempat justru kaget dengan isu yang disebarkan oknum tertentu. Mereka kepada aparat keamanan yang tiba di Tigi Barat dengan segala peralatan perang, katakan, tidak ada gerakan tambahan yang dilakukan oleh warga kampung.
“Kemarin situasinya memang sempat tegang, tapi isu itu sebetulnya sangat tidak benar. Kami justru kaget dengar isu penyelundupan amunisi, wah siapa dan kapan, sedangkan disini selama ini aman-aman saja,” ungkap Amos Agapa, Kepala Suku Mee di Distrik Tigi Barat, Selasa (16/4) siang.
Sebelumnya, melalui pesan singkat beredar isu penyelundupan amunisi. Katanya, ada warga Kampung Tenedagi menyimpan 1 magasin berisi 36 butir peluru. Tak disebutkan jenis peluru dan senjatanya.
Kepala Distrik Tigi Barat, Fransiskus Ign. Bobii, S.Ap saat dikonfirmasi tabloidjubi.com, menegaskan, isu ditiupkan oknum tak bertanggungjawab. Ia bahkan menyesalkan isu tersebut, karena berdampak ketegangan di tengah masyarakat Tigi Barat.
“Selama ini daerah kami aman. Tidak pernah ada gerakan tambahan, apalagi sampai masyarakat bikin organisasi terlarang. Jadi, semua komponen mengutuk keras pelaku penyebar SMS bohong terkait isu penyelundupan amunisi di Tenedagi,” tutur Frans.
Menyikapi isu tersebut, Kepala Distrik bersama para tokoh melakukan koordinasi dengan semua pihak. Termasuk Muspida. Selain memberi rasa aman warga, juga untuk mengecek kebenaran isu penyelundupan amunisi yang disebarkan oknum tertentu.
Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk terkait isu penyelundupan amunisi, kata Kepala Suku Mee di Distrik Tigi Barat, Amos Agapa, mulai Senin malam warga bersama aparat kampung membuat pos penjagaan di pintu masuk Tigi Barat.
“Wilayah Tigi Barat dan umumnya Deiyai selama ini aman-aman saja. Jadi, jangan ada oknum pengacau di daerah ini,” ujar Marselus Badii, Wakil Kepala Suku Mee di Distrik Tigi Barat.
Selain karena santer dengan isu penyelundupan amunisi, kehadiran aparat keamanan di distrik itu juga turut menegangkan situasi. Walaupun kehadiran aparat TNI dan Polri di sana untuk menjalankan tugas pengamanan. Dengan usaha baik dari semua pihak, situasi kembali normal.
“Kami koordinasikan dengan Muspida, dan situasi sudah aman, sehingga kami himbau kepada masyarakat untuk kembali beraktivitas seperti biasa,” kata Frans Bobii. (Jubi/Markus You)

Sumber : www.tabloidjubi.com

00.45 | 0 komentar

Blog Archives

Total Tayangan Halaman